Rabu, 2008 Agustus 20

Obat Herbal Harus Penuhi Standar Ilmiah

Herbal sebagai obat di Indonesia kini produknya sudah mencapai puluhan ribu dan dikenal luas sebagai jamu. Persoalannya, obat herbal tersebut penggunaannya berdasarkan pendekatan medik berbasis bukti-bukti ilmiah (evidence based medicine). Oleh karena itulah, pemerintah dituntut lebih berperan dalam penelitian herbal tradisional dan mengembangkan kerjasama dengan stakeholder lainnya.

Demikian diungkapkan guru besar pensiun Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr Wahyuning Ramelan, Sp.And dalam seminar "Obat Herbal dalam Pembangunan Kesehatan" di Business Center, Mega Glodok Kemayoran, Jakarta (Kompas - Senin, 11 Agustus 2008 ).

"Pemerintah seharusnya mendorong lomba penelitian khusus jamu atau obat herbal, mendorong pihak swasta untuk ikut berperan mendanai penelitian bidang ini," kata Ramelan.

Selain itu, pemerintah juga perlu memberi peralatan penelitian obat herbal tradisional pada lembaga pendidikan tinggi atau lembaga penelitian.

Peran lembaga pendidikan tinggi, menurut Prof Dr Sidik dari Universitas Padjajaran, juga signifikan untuk mendorong fakultas meneliti efek farmakologik obat herbal tradisional.

"Obat herbal ini bisa menjadi potensi besar bangsa kita bila diketahui secara akademik ilmiah semua efek farmakologiknya, efek sampingnya dan berbagai cara masuk yang efektif ke tubuh," ujar Sidik.

Ia mengatakan, penelitian obat herbal itu sangat penting tapi hasil penelitian itu juga dapat dikemas menjadi produk berorientasi paten dan pasar.

"Ini tak mudah karena dibutuhkan kerjasama lintas disiplin, antara dokter yang akan menyarankan penggunaan obat herbal, peneliti dan industri obat," tutur Sidik.

Ia menandaskan tidak adanya kerjasama dan integrasi antara peneliti (universitas), industri dan pemerintah itulah yang masih menjadi kendala obat herbal dapat diterima secara medis.

[artikel ini dimuat di KakinoOnline.com]

0 komentar: